Selasa, 12 Januari 2016

Uang Masyarakat Yang Terasa Hampa

        Pajak, It will make our country great they said. Bahkan mereka sampai berkoar bahwa "masyarakat wajib membayar pajak untuk membantu infrastruktur negara". Ya mungkin hal itu akan terjadi jika penerapannya berhasil. tetapi selama masih adanya pejabat2 "bodong" di dalam gedung MPR, maka ketimpangan sosial antara penguasa dan masyarakat masih akan terjadi hingga akhir zaman.
        Ketimpangan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat yg dilihat dari status atau kedudukan sosial. Dan dalam hal ini adanya penyalahgunaan pajak oleh para "dewan-dewan yang terhormat" ini pun membuat masyarakat yg berharap membayar pajak maka semuanya akan menjadi sejahtera,tetapi harapan ini hanyalah akan menjadi angan2 kita bersama.
         Kali ini saya akan mengajak anda untuk menolak lupa beberapa kasus penyelewengan pajak yg hampir luput dalam masyarakat.
         Yg pertama adalah kasus penyalahgunaan pajak untuk hanya membeli kasur untuk para anggota2 yg mewakili daerah kita ini, menurut liputan6.com dana yg dikeluarkan mencapai hingga Rp.12 miliar rupiah. di fikiran saya,Apakah ini yg kita sebut dengan meningkatkan infrastruktur negara? dengan membelikan mereka kasur hanya untuk mereka bersantai ria? i mean WTF? apakah mereka kekurangan kasur? apakah mereka termasuk anggota yg katanya "terhormat"? kalaupun mereka begitu mengapa uang sebanyak itu harus dihabiskan untuk sebuah tempat istirahat yg nyaman sementara banyak masyarakat yg masih kesusahan hanya untuk mencari sesuap nasi?seriously guys,we're f*cked up.
           Kasus yg kedua tidak kalah buruknya, Yaitu kasus studi banding anggota dpr ke luar negri yg bahkan lebih cenderung ke arah "study tour" daripada studi banding karena mereka kedapatan hanya berwisata ke negeri sana, dan menurut liputan6.com biaya yg dipakai pun juga berasal dari pajak yg totalnya mencapai Rp.813 miliar rupiah!! sungguh tragis mengingat masyarakat membayar pajak untuk memakmurkan masyarakat tetapi kenyatannya malah sebaliknya,mereka termakan oleh omongan mereka sendiri,mereka memberi kita harapan,suatu harapan dimana tanah air kita ini akan sejahtera,sementara  badan pusat statistik melaporkan jumlah penduduk miskin semakin meningkat hingga mencapai 28,59 juta jiwa indonesia masih terikat oleh kemiskinan.
            Inilah ironi negara kita,dimana seharusnya dana yg kita harapkan akan membantu kalangan bawah dan struktur negara menjadi terbantu,tetapi dengan segala "hormat" mereka malah menyianyiakan semua itu hanya untuk kesenangan mereka para pejabat,inilah kenyataan yg kami musti hadapi,uang masyarakat yg terasa hampa.